Minggu, 24 November 2013

latar belakang dan ruang lingkup IBD



LATAR BELAKANG DAN RUANG LINGKUP IBD
A.   Pendahuluan
Ilmu Budaya Dasar (IBD) adalah suatu pengetahuan yang menelaah berbagai masalah kemanusiaan dan budaya, dengan menggunakan pengertian – pengertian yang berasal dari dan telah dikembangkan oleh berbagai bidang pengetahuan keahlian yang tergolong dalam pengetahuan budaya.[1] Dan juga sebagai mata kuliah dasar umum (MKDU) diberikan kepada mahasiswa-mahasiswa di seluruh perguruan tinggi negeri atau swasta, bertujuan untuk mengembangkan daya tangkap, persepsi, penalaran, dan apresiasi terhadap lingkungan budaya. Hal ini penting disebabkan oleh dua hal:
a.       Tema-tema ilmu budaya dasar merupakan tema-tema inti permasalahan dasar manusia yang dialami dan dihadapi seperti tema-tema yang telah disusun oleh Konsorium Antar-Bidang Depdikbud yang meliputi cinta kasih, keindahan, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab dan keadilan, kegelisahan, dan harapan.
b.      Pada zaman sekarang terdapat kecenderungan bahwa ilmu atau ilmuan sering mengabaikan masalah sikap dan perilaku moralnya sendiri terhadap sesama manusia.. Ilmuwan dalam menerapkan ilmunya sering mengabaikan unsur manusiawinya, kurang berbudaya, dan tidak “halus”. Padahal, pembangunan nasional itu pada hakikatnya adalah pembangunan manusia.





B.   Latar Belakang  IBD
Latar belakang diberikannya Ilmu Budaya Dasar ( IBD ) bermula dari kritik yang diberikan oleh sejumlah cendekiawan ( sarjana – sarjana pendidikan dan kebudayaan ) mereka menganggap sistem pendidikan yang tengah berlangsung saat ini, berbau kolonial dan masih merupakan warisan sistem pendidikan pemerintah Belanda, yaitu kelanjutan dari  “politik balas budi” ( Etische Politiek ) yang dianjurkan oleh Conrad Theodore Van Deventer, bertujuan menghasilkan tenaga – tenaga terampil untuk menjadi ” tukang – tukang” yang mengisi birokrasi mereka di bidang administrasi, pedagang, tekhnik, dan keahlian lain dalam tujuan eksploitasi kekayaan negara.[2]
Ilmu Budaya Dasar diberikan sebagai pelengkap pembentukan sarjana Paripurna yang mampu memecahkan permasalahannya yang timbul dalam lingkungan masyarakat. Diakui secara umum bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam proses pembangunan suatu bangsa, lebih – lebih jika bangsa itu sedang membentuk watak dan kepribadian yang lebih serasi dengan perkembangan zaman.
Dewasa ini kita dihadapkan kepada tiga masalah yang saling berkaitan, yaitu :
1.      Adanya kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya yang beragam. Kemajuan tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan sikap yang mampu mengatasi ikatan yang primordial, yaitu kesukuan dan kedaerahan.
2.      Pembangunan telah membawa perubahan dalam masyarakat, yang menimbulkan penggeseran sistem nilai budaya dan sikap yang mengubah anggota masyarakat terhadap nilai – nilai budaya.
Pembangunan telah menimbulkan mobilitas sosial yang diikuti oleh hubungan interaksi yang bergeser dalam kelompok masyarakat. Sementara itu, terjadi juga penyesuaian dalam hubungan antaranggota masyarakat. Dengan demikian, dapat dipahami bila penggeseran nilai itu membawa akibat jauh dalam kehidupan berbangsa.
3.      Kemajuan dalam bidang tekhnologi, massa dan transportasi, membawa pengaruh terhadap intensitas kontak budaya antar suku maupun dengan kebudayaan dari luar. Terjadinya kontak budaya dengan kebudayaan asing bukan hanya menyebabkan intensitasnya menjadi lebih besar, tetapi juga penyebarannya berlangsung dengan cepat dan luas jangkauannya. Terjadilah perubahan orientasi budaya yang kadang – kadang menimbulkan dampak terhadap tata nilai masyarakat, yang sedang menumbuhkan identitasnya sendiri sebagai bangsa.[3]
Latar belakang diberikannya IBD selain melihat konteks budaya Indonesia, juga sesuai dengan program pendidikan di Perguruan Tinggi dalam rangka menyempurnakan pembentukan sarjana. Perguruan tinggi diharapkan dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang mempunyai seperangkat pengetahuan yang terdiri atas :
1.      Kemampuan akademis yang merupakan kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, maupun berfikir logis, kritis, sistematis, dan analitis, memiliki kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi, serta mampu menawarkan alternatif pemecahannya.
2.      Kemampuan profesional yang merupakan kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dengan kemampuan ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.
3.      Kemampuan personal yang merupakan kemampuan kepribadian. Dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, tingkah laku dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan dan kenegaraan, serta memiliki pandangan yang luas dan peka terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarkat Indonesia.
Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya sehingga manusia bukan merupakan beban pembangunan, tetapi menjadikan manusia modal atau asset ( terpenting ) bagi pembangunan. Dalam masalah kependudukan pemikiran ini menjadi jelas : bagaimana menjadikan jumlah penduduk yang besar sebagai modal pembangunan dan bukan hanya beban pembangunan.[4]


C.   RUANG LINGKUP IBD
Bertitik tolak dari kerangka tujuan,ruang lingkung kajian mata kulyah Ilmu Budaya Dasar ( IBD ), meliputi :
1.      Berbagai aspek kehidupan yang mengungkapkan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya ( The Humanietis ) , baik dari segi keahlian ( disiplin ) di dalam pengetahuan budaya, maupun gabungan berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.
2.      Hakikat manusia yang satu atau universal, tetapi beragam perwujudannya dalam kebudayaan setiap zaman dan tempat. Dalam menghadapi lingkungan alam,sosial dan budaya. Manusia tidak hanya mewujudkan kesamaan – kesamaan, tetapi juga ketidakseragaman, sebagaimana ekspresinya dalam berbagai bentuk dan corak ungkapan, pikiran,perasaan dan tingkah laku.[5]
Menilik masalah pokok yang biasa dikaji dalam mata kuliah ilmu budaya tersebut diatas, nampak dengan jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak saja sebagai subyek akan tetapi sekaligus obyek pengkajian bagaimana hubungan manusia dengan alam sesama manusia, dirinya sendiri, nilai – nilai manusia dan bagaimana pula hubungan manusia dengan Tuhan menjadi sentral dalam ilmu Budaya Dasar.
Tim IBD dari Konsorsium sudah berusaha mengadakan pembagian masalah – masalah tersebut secara fleksibel.
 Pada tahun 1972 misalnya, masalah – masalah tersebut dibagi menjadi 10 tema atau 10 topik :
1.      Manusia dan pandangan hidup
Pandangan hidup banyak sekali macamnya dan ragamnya. Akan tetapi pandangan hidup dapat diklafisifikasikan berdasarkan asalnya yaitu terdiri atas 3 macam :
a.       Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya;
b.      Pandangan hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut;
c.       Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.[6]
2.      Manusia dan asuhan
3.      Manusia dan tanggung jawab
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang tidak sengaja. Tanggung jawab berarti juga berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.[7]
4.      Manusia dan cinta kasih
Kebanyakan orang melihat masalah cinta ini pertama – tama sebagai masalh dicintai, lebih daripada itu masalah yang dicintai yaitu masalah kemampuan orang untuk mencinta, maka masalahnya bagi mereka ialah bagaimana supaya dicintai. Setiap orang membutuhkan kebutuhan untuk mencinta dan dicintai.
Cinta bukanlah terutama hubungan dengan seseorang tertentu. Cinta adalah sikap,sesuatu orientasi watak yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan,bukan menuju sesuatu objek cinta. Jika seorang pribadi hanya mencintai satu pribadi lain dan acuh tak acuh terhadap sesamanya yang lain,cintanya bukanlah cinta, tetapi ikatan simbolik atau egoisme yang diperluas.Sedangkan cinta kasih adalah cinta yang disertai dengan kasih sayang.[8]
5.      Manusia dan kegelisahan
Kegelisahan dapat diartikan pula sebagai suatu bentuk kecemasan. Menurut Sigmund Freud kecemasan dibagi menjadi 3 macam, yakni : kecemasan tentang kenyataan/obyektif;kecemasan neeurotis;dan kecemasan moril.
Dari ketiga macam kecemasan tersebut sebenarnya tidak ada perbedaan dari segi jenisnya. Semuanya mempunyai satu sifat yang sama,yaitu tidak menyenangkan dari mereka yang mengalaminya. Mereka ( tiga macam kecemasan ) hanya berbeda dalam hubungan sumbernya. Kecemasan tentang kenyataan, sumber dari bahaya itu terletak dalam dunia luar. Kecemasan neurotis, ancaman terletak dalam pemilihan objek secara naluriah dari Id. Kecemasan moril, sumber ancaman adalah hati nurani dari super ego.[9]
6.      Manusia dan derita ( penderitaan )
Dari hari ke hari, kita sering kali mendengar atau menyaksikan penderitaan – penderitaan yang dialami oleh sesama umat manusia. Penderita – penderita tersebut beranekaragam penyebabnya. Ada penderitaan yang dikarenakan terjadinya bencana alam, seperti gunung meletus,gempa bumi,banjir dan sebagainya. Ada pula penderitaan yang terjadi karena musibah/kecelakaan, seperti kecelakaan pesawat terbang,kapal laut,kereta api atau kebakaran dan sebagainya. Disamping itu, juga ada penderitaan yang dikarenakan berkecamuknya peperangan,penindasan,perbudakan dan yang semacamnya. Juga terdapat penderitaan yang dikarenakan kefakiran dan kemiskinan. Sebab – sebab lain dari penderitaan sesama manusia, tentu saja masih banyak lagi apabila hendak didaftar satu persatu.[10]
Jadi dapat disimpulkan dari pemaparan diatas bahwa manusia dan penderitaan adalah hubungan manusia dengan peristiwa kehidupan yang buruk yang pernah dialaminya sehingga dapat membuat trauma/tekanan batin bagi manusia tersebut.  
7.      Manusia dan harapan
Kita ingat ibarat demikian,” manusia tanpa cita – cita ibarat mati sebelum ajal “. Artinya orang yang tidak mempunyai cita – cita atau harapan tak ubahnya seperti orang mat. Jelasnya,setiap orang mempunyai cita – cita atau harapan. Harapan bersifat manusiawi dan dimiliki oleh setiap orang. Bila kita tinjau dari wujudnya dapat dikatakan bahwa harapan itu tidak terhingga. Namun bila dilihat dari tujuannya hanya ada satu ialah hidup bahagia, di dunia dan di akhirat.
Dalam hubungannya dengan pendidikan moral, untuk mewujudkan harapan perlu diupayakan hal berikut :
a.       Harapan apa yang baik
b.      Bagaimana mencapai harapan itu
c.       Bagaimana bila harapan itu tidak tercapai.[11]
8.      Manusia dan ketulusan
9.      Manusia dan pengabdian
Pengabdian adalah perbuatan baik berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan,antara lain kepada raja,cinta kasih sayang,hormat, atau suatu ikatan dan semua dilakukan dengan ikhlas.
Timbulnya pengabdian itu hakikatnya adalah rasa tanggung jawab. Apabila kita bekerja keras dari pagi sampai sore hari di beberapa tempat untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga,berarti mengabdi kepada keluarga, karena kasih sayang kita kepada keluarga. Lain halnya bila keluarga kita membantu teman, yang berada dalam kesulitan mungkin diperlukan waktu berhari – hari untuk menyelesaikannya sampai tuntas. Itu bukan pengabdian, tetapi bantuan saja.[12]
10.  Manusia dan keadilan.[13]
Menurut kamus umum bahasa indonesia  susunan W.J.S.Poerwadarminta,kata adil berarti tidak berat sebelah atau tidak memihak ataupun tidak sewenang – wenang. Dengan demikian,keadilan mengandung pengertian berbagai hal yang tidak berat sebelah atau tidak memihak dan sewenang – wenang.
Keadilan, pada umumnya perlu diperoleh bahkan kalau terpaksa dituntut. Akan tetapi, untuk memperoleh keadilan biasanya diperlukan pihak ketiga sebagai penengah. Dengan harapan, pihak ketiga ini dapat bertindak adil terhadap pihak yang berselisih. Ia harus netral, tidak boleh menguntungkan satu pihak. Pihak ketiga sangat diperlukan karena tanpa kehadirannya, pihak yang berselisih akan bersikap konfrontatif yang bila dibiarkan dapat mengarah kepada kekerasan.[14]
Pada tahun 1973, Tim IBD membagi masalah – masalah tersebut menjadi 15 tema atau topik, yang disusun sesuai dengan “lingkungan hidup manusia”.

1.      Kelahiran
2.      Kebahagiaan dan humor
3.      Cinta kasih dan keterbukaan
4.      Kedirian manusia dan perkelaminan
5.      Pengeluaran, pemanfaatan, dan penaklukan alam
6.      Keindahan dan khayalan
7.      Kekuatan dan kehormatan
8.      Kedakuan, pembrontakan, dan perbudakan
9.      Penderitaan
10.  Keadilan dan hak
11.  Kebebasan
12.  Kebijaksanaan dan pandangan hidup
13.  Kerinduan Ilahi
14.  Iman dan kesucian
15.  Kematian [15]
Kemudian pada tahun 1978, TIM IBD menyusun kembali masalah – masalah tersebut menjadi 7 topik yaitu :

1.      Keadilan
2.      Tanggung jawab
3.      Cinta kasih
4.      Pengabdian
5.      Harapan
6.      Kegelisahan
7.      Penderitaan

Dan pada tahun 1980 Tim IBD merumuskan menjadi 8 topik :

1.      Pandangan hidup
2.      Keindahan
3.      Cinta kasih
4.      Tanggung jawab dan pengabdian
5.      Keadilan
6.      Kegelisahan
7.      Penderitaan
8.      Harapan
Akhirnya pada tahun 1982 konsorsium menurunkan rumusan terbaru sebagai berikut :
      Mata kuliah Ilmu Budaya Dasar adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep – konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah – masalah budaya.[16]
      Kedua masalah pokok tersebut diatas, sudah tentu masih memerlukan penjabaran lebih lanjut untuk bisa dioperasionalkan. Rumusan masalah – masalah yang akan dikaji dalam Ilmu Budaya Dasar diformulasikan ke dalam satu tema, yaitu manusia sebagai makhluk budaya. Tema ini akan dikembangkan lebih lanjut ke dalam delapan pokok bahasan dan sub pokok bahasan, yaitu :

1.      Manusia dan cinta kasih :
-          Cinta antara pria dan wanita
-          Kekeluargaan
-          Persaudaraan
2.      Manusia dan keindahan :
-          Kontemplasi
Menurut artinya sebagai istilah adalah proses bermeditasi, merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai – nilai,makna,manfaat adan tujuan atau niat suatu hasil penciptaan. Dalam kehidupan sehari – hari,orang mungkin berkontemplasi dengan dirinya sendiri atau mungkin juga dengan benda – benda ciptaan Tuhan atau dengan peristiwa kehidupan tertentu berkenaan dengan dirinya atau diluar dirinya. Dikalangan umum kontemplasi diartikan sebagai aktifitas melihat dengan mata atau dengan pikiran untuk mencari sesuatu dibalik yang tampak atau tersurat. Misalnya dalam ekspresi : ia sedang berkontemplasi dengan bayang – bayang atau dirinya dimuka cermin.
Pengertian kontemplasi tersebut sebenarnya bersumber pada berbagai kenyataan dalam kehidupan sehari – hari, yang tampaknya bertentangan dengan adat kebiasaan dan kebudayaan bangsa dalam hakikatnya yang selalu menghendaki perubahan.[17]
-          Ekstasi
Yaitu suatu perasaan kebahagiaan spiritual yang membubung tinggi . ia berwatak seperti janin yang organis dalam rahim, yang pada saatnya menjadi sosok yang bentuk dan wajahnya tiada kesamaannya.[18]

3.      Manusia dan penderitaan :
-          nasib buruk
-          penyesalan
-          kehilangan yang dicintai
4.      manusia dan keadilan :
-          rasa keadilan
-          perlakuan yang adil
5.      manusia dan pandangan hidup :
-          cita – cita
-          kebajikan
6.      manusia dan tanggung jawab serta pengabdian :
-          kesadaran
-          kewajiban
-          pengorbanan
7.      manusia dan kegelisahan :
-          keterasingan
-          kesepian
-          ketidakpastian
8.      manusia dan harapan :
-          kepercayaan diri
-          gairah mengatasi kesulitan.[19]
Dari pengembangan masalah – masalah tersebut diatas nampak sekali bahwa orientasi dalam ilmu budaya dasar memang tidak terlepas dari masalah – masalah manusia dan kebudayaannya. Kedelapan pokok bahasan ( beserta sub pokok bahasan ) tersebut diatas pada dasarnya termasuk dalam karya – karya yang tercakup dalam pengetahuan budaya ( the humanities ).


            Dan sebagaimana dikemukakan, untuk mendekati masalah yang akan dikaji dengan Ilmu Budaya Dasar, bisa digunakan cabang – cabang pengetahuan budaya, baik secara sendiri – sendiri maupun gabungan antara berbagai bidang. Perwujudan mengenai cinta kasih, misalnya terdapat dalam karya – karya sastra, tarian, musik,filsafat,lukisan,patung dan lain sebagainya yang semuanya merupakan benda – benda budaya. Untuk itu pokok bahasan mengenai manusia dan cinta kasih dapat didekati dengan menggunakan karya – karya tersebut.[20]















D.   Kesimpulan
Ilmu Budaya Dasar” adalah suatu pengetahuan yang menelaah berbagai masalah kemanusiaan dan budaya, dengan menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari dan telah dikembangkan oleh berbagai bidang pengetahuan keahlian yang tergolong dalam Pengetahuan Budaya.
Kebudayaan adalah hasil buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. Dan budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa.
                        Latar belakang ilmu budaya dasar bermula dari kritik yang diberikan oleh sejumlah cendikiawan mengenai system pendidikan kita yang dinilai sebagai warisan system pendidikan pemerintahan Belanda pada masa penjajahan dengan tujuan menghasilkan tenaga terampil dalam bidang administrasi, perdagangan, teknik,dan keahlian lain demi kelancaran usaha mereka dalam mengeksploitasi kekayaan Negara kita. Padahal pendidikan itu seharusnya lebih ditujukan untuk menciptakan kaum cendikiawan daripada mencetak tenaga yang terampil. Para lulusan perguruan tinggi diharapkan dapat berperan sebagai sumber utama bagi pembangunan Negara secara menyeluruh. Dari mereka diharapkan adanya sumbangan ide bagi pemecahan masalah social masyarakat yang sangat kompleks dan berkaitan satu dan lain, dan juga dalam masalah budaya
Ruang lingkup Ilmu Budaya Dasar terdiri dari:
1.      Manusia dan cinta kasih
2.      Manusia dan keindahan
3.      Manusia dan penderitaan
4.      Manusia dan keadilan
5.      Manusia dan tanggung jawab serta pengabdian
6.      Manusia dan kegelisahan
7.      Manusia dan harapan.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,Abu.2003.Ilmu Sosial Budaya.Jakarta: Rhineka Cipta
            Mawardi.2000.IAD-ISD-IBD.Bandung: Pustaka Setia
            Mustofa, Ahmad.1999.Ilmu Budaya Dasar.Bandung:Pustaka Setia
            Mustopo,Habib.1983.Ilmu Budaya Dasar.Surabaya:Usaha Nasional
Notowidagdo,Rohiman.1995.Ilmu Budaya Dasar berdasarkan Al-Quran dan Hadist.Jakarta: Raja Grafindo Persada
Tri Prasetya, Joko,dkk.2011. Ilmu Budaya Dasar.Jakarta: Rhineka Cipta













MAKALAH
Latar Belakang dan Ruang Lingkup IBD
Kelompok 1 :
Jesti Anggraini
Berry Porliwan

Dosen Pembimbing : Elman Johari M.Hi

FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
JURUSAN PERBANKAN SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
BENGKULU 2013



             


[1] ( Tri Prasetya,Joko,dkk, ilmu budaya dasar,Jakarta: Rhineka Cipta,2011,H.1 )
[2] (Mustofa,Ahmad,Ilmu Budaya Dasar,Bandung:Pustaka Setia,1999,H.21)
[3] ( Mawardi, IAD-ISD-IBD,Bandung: Pustaka Setia,2000,H.136-137 )
[4] . ( Abu,Ahmadi. Ilmu sosial dasar,Jakarta:Rhineka Cipta,2003,H.5-6 )

[5] ( Mawardi, IAD-ISD-IBD,Bandung: Pustaka Setia,2000,H.139)
[6] ( Mustopo,Habib,Ilmu Budaya Dasar,Surabaya:Usaha Nasional,1983,H.173 )
[7] (Mustofa,Ahmad,Ilmu Budaya Dasar,Bandung:Pustaka Setia,1999,H.132)
[8] ( Mustopo,Habib,Ilmu Budaya Dasar,Surabaya:Usaha Nasional,1983,H.77 )
[9] Ibid,H.213
[10] ( Mustopo,Habib,Ilmu Budaya Dasar,Surabaya:Usaha Nasional,1983,H.151 )
[11] ( Mustofa,Ahmad,Ilmu Budaya Dasar,Bandung:Pustaka Setia,1999,H.176-177)
[12] ( Mustofa,Ahmad,Ilmu Budaya Dasar,Bandung:Pustaka Setia,1999, H.136-137)
[13] ( Tri Prasetya,Joko,dkk, H.4 )
[14] (Mustofa,Ahmad,Ilmu Budaya Dasar,Bandung:Pustaka Setia,1999,H.106)
[15] ( Tri Prasetya,Joko,dkk, ilmu budaya dasar,Jakarta: Rhineka Cipta,2011,H.4-5 )

[16] ( Tri Prasetya,Joko,dkk, ilmu budaya dasar,Jakarta: Rhineka Cipta,2011,H.5 )
[17]  (Mustofa,Ahmad,Ilmu Budaya Dasar,Bandung:Pustaka Setia,1999,H.112)
[18] ( Mustopo,Habib,Ilmu Budaya Dasar,Surabaya:Usaha Nasional,1983,H.125 )
[19] ( Tri Prasetya,Joko,dkk, ilmu budaya dasar,Jakarta: Rhineka Cipta,2011,H.6 )
[20] ( Tri Prasetya,Joko,dkk, ilmu budaya dasar,Jakarta: Rhineka Cipta,2011,H.6-7 )