LATAR BELAKANG DAN RUANG LINGKUP
IBD
A.
Pendahuluan
Ilmu
Budaya Dasar (IBD) adalah suatu pengetahuan yang menelaah berbagai masalah
kemanusiaan dan budaya, dengan menggunakan pengertian – pengertian yang berasal
dari dan telah dikembangkan oleh berbagai bidang pengetahuan keahlian yang
tergolong dalam pengetahuan budaya.[1]
Dan juga sebagai mata kuliah dasar umum (MKDU) diberikan kepada
mahasiswa-mahasiswa di seluruh perguruan tinggi negeri atau swasta, bertujuan
untuk mengembangkan daya tangkap, persepsi, penalaran, dan apresiasi terhadap
lingkungan budaya. Hal ini penting disebabkan oleh dua hal:
a. Tema-tema ilmu budaya dasar
merupakan tema-tema inti permasalahan dasar manusia yang dialami dan dihadapi
seperti tema-tema yang telah disusun oleh Konsorium Antar-Bidang Depdikbud yang
meliputi cinta kasih, keindahan, penderitaan, keadilan, pandangan hidup,
tanggung jawab dan keadilan, kegelisahan, dan harapan.
b. Pada zaman sekarang terdapat
kecenderungan bahwa ilmu atau ilmuan sering mengabaikan masalah sikap dan
perilaku moralnya sendiri terhadap sesama manusia.. Ilmuwan dalam menerapkan
ilmunya sering mengabaikan unsur manusiawinya, kurang berbudaya, dan tidak
“halus”. Padahal, pembangunan nasional itu pada hakikatnya adalah pembangunan
manusia.
B.
Latar
Belakang IBD
Latar
belakang diberikannya Ilmu Budaya Dasar ( IBD ) bermula dari kritik yang
diberikan oleh sejumlah cendekiawan ( sarjana – sarjana pendidikan dan
kebudayaan ) mereka menganggap sistem pendidikan yang tengah berlangsung saat
ini, berbau kolonial dan masih merupakan warisan sistem pendidikan pemerintah
Belanda, yaitu kelanjutan dari “politik
balas budi” ( Etische Politiek ) yang dianjurkan oleh Conrad Theodore Van
Deventer, bertujuan menghasilkan tenaga – tenaga terampil untuk menjadi ” tukang
– tukang” yang mengisi birokrasi mereka di bidang administrasi, pedagang,
tekhnik, dan keahlian lain dalam tujuan eksploitasi kekayaan negara.[2]
Ilmu Budaya Dasar diberikan sebagai pelengkap
pembentukan sarjana Paripurna yang mampu memecahkan permasalahannya yang timbul
dalam lingkungan masyarakat. Diakui secara umum bahwa kebudayaan merupakan
unsur penting dalam proses pembangunan suatu bangsa, lebih – lebih jika bangsa
itu sedang membentuk watak dan kepribadian yang lebih serasi dengan
perkembangan zaman.
Dewasa ini kita dihadapkan kepada tiga masalah yang
saling berkaitan, yaitu :
1. Adanya
kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dengan latar
belakang sosial budaya yang beragam. Kemajuan tersebut tercermin dalam berbagai
aspek kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan sikap yang mampu mengatasi ikatan
yang primordial, yaitu kesukuan dan kedaerahan.
2. Pembangunan
telah membawa perubahan dalam masyarakat, yang menimbulkan penggeseran sistem
nilai budaya dan sikap yang mengubah anggota masyarakat terhadap nilai – nilai
budaya.
Pembangunan telah
menimbulkan mobilitas sosial yang diikuti oleh hubungan interaksi yang bergeser
dalam kelompok masyarakat. Sementara itu, terjadi juga penyesuaian dalam
hubungan antaranggota masyarakat. Dengan demikian, dapat dipahami bila
penggeseran nilai itu membawa akibat jauh dalam kehidupan berbangsa.
3. Kemajuan
dalam bidang tekhnologi, massa dan transportasi, membawa pengaruh terhadap
intensitas kontak budaya antar suku maupun dengan kebudayaan dari luar.
Terjadinya kontak budaya dengan kebudayaan asing bukan hanya menyebabkan
intensitasnya menjadi lebih besar, tetapi juga penyebarannya berlangsung dengan
cepat dan luas jangkauannya. Terjadilah perubahan orientasi budaya yang kadang
– kadang menimbulkan dampak terhadap tata nilai masyarakat, yang sedang
menumbuhkan identitasnya sendiri sebagai bangsa.[3]
Latar
belakang diberikannya IBD selain melihat konteks budaya Indonesia, juga sesuai
dengan program pendidikan di Perguruan Tinggi dalam rangka menyempurnakan
pembentukan sarjana. Perguruan tinggi diharapkan dapat menghasilkan
sarjana-sarjana yang mempunyai seperangkat pengetahuan yang terdiri atas :
1. Kemampuan akademis yang merupakan
kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai
peralatan analisis, maupun berfikir logis, kritis, sistematis, dan analitis,
memiliki kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah
yang dihadapi, serta mampu menawarkan alternatif pemecahannya.
2. Kemampuan profesional yang merupakan
kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dengan kemampuan
ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang
tinggi dalam bidang profesinya.
3. Kemampuan personal yang merupakan
kemampuan kepribadian. Dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan
memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, tingkah laku dan
tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami dan mengenal
nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan dan kenegaraan, serta memiliki pandangan
yang luas dan peka terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarkat
Indonesia.
Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya sehingga manusia
bukan merupakan beban pembangunan, tetapi menjadikan manusia modal atau asset (
terpenting ) bagi pembangunan. Dalam masalah kependudukan pemikiran ini menjadi
jelas : bagaimana menjadikan jumlah penduduk yang besar sebagai modal
pembangunan dan bukan hanya beban pembangunan.[4]
C.
RUANG
LINGKUP IBD
Bertitik
tolak dari kerangka tujuan,ruang lingkung kajian mata kulyah Ilmu Budaya Dasar
( IBD ), meliputi :
1. Berbagai
aspek kehidupan yang mengungkapkan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat
didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya ( The Humanietis ) , baik dari
segi keahlian ( disiplin ) di dalam pengetahuan budaya, maupun gabungan
berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.
2. Hakikat
manusia yang satu atau universal, tetapi beragam perwujudannya dalam kebudayaan
setiap zaman dan tempat. Dalam menghadapi lingkungan alam,sosial dan budaya.
Manusia tidak hanya mewujudkan kesamaan – kesamaan, tetapi juga
ketidakseragaman, sebagaimana ekspresinya dalam berbagai bentuk dan corak
ungkapan, pikiran,perasaan dan tingkah laku.[5]
Menilik masalah pokok
yang biasa dikaji dalam mata kuliah ilmu budaya tersebut diatas, nampak dengan
jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak
saja sebagai subyek akan tetapi sekaligus obyek pengkajian bagaimana hubungan manusia
dengan alam sesama manusia, dirinya sendiri, nilai – nilai manusia dan
bagaimana pula hubungan manusia dengan Tuhan menjadi sentral dalam ilmu Budaya
Dasar.
Tim IBD dari Konsorsium sudah
berusaha mengadakan pembagian masalah – masalah tersebut secara fleksibel.
Pada tahun 1972 misalnya, masalah – masalah
tersebut dibagi menjadi 10 tema atau 10 topik :
1. Manusia
dan pandangan hidup
Pandangan hidup banyak
sekali macamnya dan ragamnya. Akan tetapi pandangan hidup dapat
diklafisifikasikan berdasarkan asalnya yaitu terdiri atas 3 macam :
a. Pandangan
hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya;
b. Pandangan
hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang
terdapat pada negara tersebut;
c. Pandangan
hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.[6]
2. Manusia
dan asuhan
3. Manusia
dan tanggung jawab
Tanggung jawab adalah
kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang
tidak sengaja. Tanggung jawab berarti juga berbuat sebagai perwujudan kesadaran
akan kewajibannya.[7]
4. Manusia
dan cinta kasih
Kebanyakan orang
melihat masalah cinta ini pertama – tama sebagai masalh dicintai, lebih
daripada itu masalah yang dicintai yaitu masalah kemampuan orang untuk
mencinta, maka masalahnya bagi mereka ialah bagaimana supaya dicintai. Setiap
orang membutuhkan kebutuhan untuk mencinta dan dicintai.
Cinta bukanlah terutama
hubungan dengan seseorang tertentu. Cinta adalah sikap,sesuatu orientasi watak
yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan,bukan menuju sesuatu
objek cinta. Jika seorang pribadi hanya mencintai satu pribadi lain dan acuh
tak acuh terhadap sesamanya yang lain,cintanya bukanlah cinta, tetapi ikatan
simbolik atau egoisme yang diperluas.Sedangkan cinta kasih adalah cinta yang
disertai dengan kasih sayang.[8]
5. Manusia
dan kegelisahan
Kegelisahan dapat
diartikan pula sebagai suatu bentuk kecemasan. Menurut Sigmund Freud kecemasan
dibagi menjadi 3 macam, yakni : kecemasan tentang kenyataan/obyektif;kecemasan
neeurotis;dan kecemasan moril.
Dari ketiga macam
kecemasan tersebut sebenarnya tidak ada perbedaan dari segi jenisnya. Semuanya
mempunyai satu sifat yang sama,yaitu tidak menyenangkan dari mereka yang
mengalaminya. Mereka ( tiga macam kecemasan ) hanya berbeda dalam hubungan
sumbernya. Kecemasan tentang kenyataan, sumber dari bahaya itu terletak dalam
dunia luar. Kecemasan neurotis, ancaman terletak dalam pemilihan objek secara
naluriah dari Id. Kecemasan moril, sumber ancaman adalah hati nurani dari super
ego.[9]
6. Manusia
dan derita ( penderitaan )
Dari hari ke hari, kita
sering kali mendengar atau menyaksikan penderitaan – penderitaan yang dialami
oleh sesama umat manusia. Penderita – penderita tersebut beranekaragam
penyebabnya. Ada penderitaan yang dikarenakan terjadinya bencana alam, seperti
gunung meletus,gempa bumi,banjir dan sebagainya. Ada pula penderitaan yang
terjadi karena musibah/kecelakaan, seperti kecelakaan pesawat terbang,kapal
laut,kereta api atau kebakaran dan sebagainya. Disamping itu, juga ada
penderitaan yang dikarenakan berkecamuknya peperangan,penindasan,perbudakan dan
yang semacamnya. Juga terdapat penderitaan yang dikarenakan kefakiran dan
kemiskinan. Sebab – sebab lain dari penderitaan sesama manusia, tentu saja
masih banyak lagi apabila hendak didaftar satu persatu.[10]
Jadi dapat disimpulkan
dari pemaparan diatas bahwa manusia dan penderitaan adalah hubungan manusia
dengan peristiwa kehidupan yang buruk yang pernah dialaminya sehingga dapat
membuat trauma/tekanan batin bagi manusia tersebut.
7. Manusia
dan harapan
Kita ingat ibarat
demikian,” manusia tanpa cita – cita ibarat mati sebelum ajal “. Artinya orang
yang tidak mempunyai cita – cita atau harapan tak ubahnya seperti orang mat.
Jelasnya,setiap orang mempunyai cita – cita atau harapan. Harapan bersifat
manusiawi dan dimiliki oleh setiap orang. Bila kita tinjau dari wujudnya dapat
dikatakan bahwa harapan itu tidak terhingga. Namun bila dilihat dari tujuannya
hanya ada satu ialah hidup bahagia, di dunia dan di akhirat.
Dalam hubungannya
dengan pendidikan moral, untuk mewujudkan harapan perlu diupayakan hal berikut
:
a. Harapan
apa yang baik
b. Bagaimana
mencapai harapan itu
c. Bagaimana
bila harapan itu tidak tercapai.[11]
8. Manusia
dan ketulusan
9. Manusia
dan pengabdian
Pengabdian adalah
perbuatan baik berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan
kesetiaan,antara lain kepada raja,cinta kasih sayang,hormat, atau suatu ikatan
dan semua dilakukan dengan ikhlas.
Timbulnya pengabdian
itu hakikatnya adalah rasa tanggung jawab. Apabila kita bekerja keras dari pagi
sampai sore hari di beberapa tempat untuk mencukupi kebutuhan rumah
tangga,berarti mengabdi kepada keluarga, karena kasih sayang kita kepada
keluarga. Lain halnya bila keluarga kita membantu teman, yang berada dalam
kesulitan mungkin diperlukan waktu berhari – hari untuk menyelesaikannya sampai
tuntas. Itu bukan pengabdian, tetapi bantuan saja.[12]
10. Manusia
dan keadilan.[13]
Menurut kamus umum
bahasa indonesia susunan
W.J.S.Poerwadarminta,kata adil berarti tidak berat sebelah atau tidak memihak
ataupun tidak sewenang – wenang. Dengan demikian,keadilan mengandung pengertian
berbagai hal yang tidak berat sebelah atau tidak memihak dan sewenang – wenang.
Keadilan, pada umumnya perlu
diperoleh bahkan kalau terpaksa dituntut. Akan tetapi, untuk memperoleh
keadilan biasanya diperlukan pihak ketiga sebagai penengah. Dengan harapan,
pihak ketiga ini dapat bertindak adil terhadap pihak yang berselisih. Ia harus
netral, tidak boleh menguntungkan satu pihak. Pihak ketiga sangat diperlukan
karena tanpa kehadirannya, pihak yang berselisih akan bersikap konfrontatif
yang bila dibiarkan dapat mengarah kepada kekerasan.[14]
Pada
tahun 1973, Tim IBD membagi masalah – masalah tersebut menjadi 15 tema atau
topik, yang disusun sesuai dengan “lingkungan hidup manusia”.
1. Kelahiran
2. Kebahagiaan
dan humor
3. Cinta
kasih dan keterbukaan
4. Kedirian
manusia dan perkelaminan
5. Pengeluaran,
pemanfaatan, dan penaklukan alam
6. Keindahan
dan khayalan
7. Kekuatan
dan kehormatan
8. Kedakuan,
pembrontakan, dan perbudakan
9. Penderitaan
10. Keadilan
dan hak
11. Kebebasan
12. Kebijaksanaan
dan pandangan hidup
13. Kerinduan
Ilahi
14. Iman
dan kesucian
15. Kematian
[15]
Kemudian
pada tahun 1978, TIM IBD menyusun kembali masalah – masalah tersebut menjadi 7
topik yaitu :
1. Keadilan
2. Tanggung
jawab
3. Cinta
kasih
4. Pengabdian
5. Harapan
6. Kegelisahan
7. Penderitaan
Dan
pada tahun 1980 Tim IBD merumuskan menjadi 8 topik :
1. Pandangan
hidup
2. Keindahan
3. Cinta
kasih
4. Tanggung
jawab dan pengabdian
5. Keadilan
6. Kegelisahan
7. Penderitaan
8. Harapan
Akhirnya
pada tahun 1982 konsorsium menurunkan rumusan terbaru sebagai berikut :
Mata kuliah Ilmu Budaya Dasar adalah usaha
yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang
konsep – konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah – masalah budaya.[16]
Kedua masalah pokok tersebut diatas, sudah
tentu masih memerlukan penjabaran lebih lanjut untuk bisa dioperasionalkan.
Rumusan masalah – masalah yang akan dikaji dalam Ilmu Budaya Dasar
diformulasikan ke dalam satu tema, yaitu manusia sebagai makhluk budaya. Tema
ini akan dikembangkan lebih lanjut ke dalam delapan pokok bahasan dan sub pokok
bahasan, yaitu :
1. Manusia
dan cinta kasih :
-
Cinta antara pria dan wanita
-
Kekeluargaan
-
Persaudaraan
2. Manusia
dan keindahan :
-
Kontemplasi
Menurut artinya sebagai
istilah adalah proses bermeditasi, merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam
untuk mencari nilai – nilai,makna,manfaat adan tujuan atau niat suatu hasil
penciptaan. Dalam kehidupan sehari – hari,orang mungkin berkontemplasi dengan
dirinya sendiri atau mungkin juga dengan benda – benda ciptaan Tuhan atau
dengan peristiwa kehidupan tertentu berkenaan dengan dirinya atau diluar
dirinya. Dikalangan umum kontemplasi diartikan sebagai aktifitas melihat dengan
mata atau dengan pikiran untuk mencari sesuatu dibalik yang tampak atau
tersurat. Misalnya dalam ekspresi : ia sedang berkontemplasi dengan bayang –
bayang atau dirinya dimuka cermin.
Pengertian kontemplasi
tersebut sebenarnya bersumber pada berbagai kenyataan dalam kehidupan sehari –
hari, yang tampaknya bertentangan dengan adat kebiasaan dan kebudayaan bangsa
dalam hakikatnya yang selalu menghendaki perubahan.[17]
-
Ekstasi
Yaitu suatu perasaan
kebahagiaan spiritual yang membubung tinggi . ia berwatak seperti janin yang
organis dalam rahim, yang pada saatnya menjadi sosok yang bentuk dan wajahnya
tiada kesamaannya.[18]
3. Manusia
dan penderitaan :
-
nasib buruk
-
penyesalan
-
kehilangan yang dicintai
4. manusia
dan keadilan :
-
rasa keadilan
-
perlakuan yang adil
5. manusia
dan pandangan hidup :
-
cita – cita
-
kebajikan
6. manusia
dan tanggung jawab serta pengabdian :
-
kesadaran
-
kewajiban
-
pengorbanan
7. manusia
dan kegelisahan :
-
keterasingan
-
kesepian
-
ketidakpastian
8. manusia
dan harapan :
-
kepercayaan diri
-
gairah mengatasi kesulitan.[19]
Dari
pengembangan masalah – masalah tersebut diatas nampak sekali bahwa orientasi
dalam ilmu budaya dasar memang tidak terlepas dari masalah – masalah manusia
dan kebudayaannya. Kedelapan pokok bahasan ( beserta sub pokok bahasan )
tersebut diatas pada dasarnya termasuk dalam karya – karya yang tercakup dalam
pengetahuan budaya ( the humanities ).
Dan sebagaimana dikemukakan, untuk
mendekati masalah yang akan dikaji dengan Ilmu Budaya Dasar, bisa digunakan
cabang – cabang pengetahuan budaya, baik secara sendiri – sendiri maupun
gabungan antara berbagai bidang. Perwujudan mengenai cinta kasih, misalnya
terdapat dalam karya – karya sastra, tarian, musik,filsafat,lukisan,patung dan
lain sebagainya yang semuanya merupakan benda – benda budaya. Untuk itu pokok
bahasan mengenai manusia dan cinta kasih dapat didekati dengan menggunakan
karya – karya tersebut.[20]
D.
Kesimpulan
Ilmu
Budaya Dasar” adalah suatu pengetahuan yang menelaah berbagai masalah
kemanusiaan dan budaya, dengan menggunakan pengertian-pengertian yang berasal
dari dan telah dikembangkan oleh berbagai bidang pengetahuan keahlian yang
tergolong dalam Pengetahuan Budaya.
Kebudayaan
adalah hasil buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. Dan budaya
adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa.
Latar belakang ilmu budaya dasar
bermula dari kritik yang diberikan oleh sejumlah cendikiawan mengenai system
pendidikan kita yang dinilai sebagai warisan system pendidikan pemerintahan
Belanda pada masa penjajahan dengan tujuan menghasilkan tenaga terampil dalam
bidang administrasi, perdagangan, teknik,dan keahlian lain demi kelancaran
usaha mereka dalam mengeksploitasi kekayaan Negara kita. Padahal pendidikan itu
seharusnya lebih ditujukan untuk menciptakan kaum cendikiawan daripada mencetak
tenaga yang terampil. Para lulusan perguruan tinggi diharapkan dapat berperan
sebagai sumber utama bagi pembangunan Negara secara menyeluruh. Dari mereka
diharapkan adanya sumbangan ide bagi pemecahan masalah social masyarakat yang
sangat kompleks dan berkaitan satu dan lain, dan juga dalam masalah budaya
Ruang lingkup Ilmu Budaya Dasar
terdiri dari:
1. Manusia dan cinta kasih
2. Manusia dan keindahan
3. Manusia dan penderitaan
4. Manusia dan keadilan
5. Manusia dan tanggung jawab serta
pengabdian
6. Manusia dan kegelisahan
7. Manusia dan harapan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,Abu.2003.Ilmu Sosial Budaya.Jakarta: Rhineka
Cipta
Mawardi.2000.IAD-ISD-IBD.Bandung: Pustaka Setia
Mustofa, Ahmad.1999.Ilmu Budaya Dasar.Bandung:Pustaka Setia
Mustopo,Habib.1983.Ilmu Budaya Dasar.Surabaya:Usaha
Nasional
Notowidagdo,Rohiman.1995.Ilmu Budaya Dasar berdasarkan Al-Quran dan
Hadist.Jakarta: Raja Grafindo Persada
Tri
Prasetya, Joko,dkk.2011. Ilmu Budaya
Dasar.Jakarta: Rhineka Cipta
MAKALAH


Kelompok 1 :
Jesti Anggraini
Berry Porliwan
Dosen
Pembimbing : Elman Johari M.Hi
FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
JURUSAN PERBANKAN SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN
)
BENGKULU 2013
[1] ( Tri Prasetya,Joko,dkk, ilmu budaya dasar,Jakarta: Rhineka Cipta,2011,H.1 )
[2] (Mustofa,Ahmad,Ilmu
Budaya Dasar,Bandung:Pustaka Setia,1999,H.21)
[3] ( Mawardi, IAD-ISD-IBD,Bandung:
Pustaka Setia,2000,H.136-137 )
[4] . ( Abu,Ahmadi. Ilmu
sosial dasar,Jakarta:Rhineka Cipta,2003,H.5-6 )
[5] ( Mawardi, IAD-ISD-IBD,Bandung:
Pustaka Setia,2000,H.139)
[6] ( Mustopo,Habib,Ilmu
Budaya Dasar,Surabaya:Usaha Nasional,1983,H.173 )
[7] (Mustofa,Ahmad,Ilmu
Budaya Dasar,Bandung:Pustaka Setia,1999,H.132)
[8] ( Mustopo,Habib,Ilmu
Budaya Dasar,Surabaya:Usaha Nasional,1983,H.77 )
[9]
Ibid,H.213
[10] ( Mustopo,Habib,Ilmu
Budaya Dasar,Surabaya:Usaha Nasional,1983,H.151 )
[11] ( Mustofa,Ahmad,Ilmu
Budaya Dasar,Bandung:Pustaka Setia,1999,H.176-177)
[12] ( Mustofa,Ahmad,Ilmu
Budaya Dasar,Bandung:Pustaka Setia,1999, H.136-137)
[13] ( Tri Prasetya,Joko,dkk, H.4 )
[14] (Mustofa,Ahmad,Ilmu
Budaya Dasar,Bandung:Pustaka Setia,1999,H.106)
[15] ( Tri Prasetya,Joko,dkk, ilmu budaya dasar,Jakarta: Rhineka Cipta,2011,H.4-5 )
[16] ( Tri Prasetya,Joko,dkk, ilmu budaya dasar,Jakarta: Rhineka Cipta,2011,H.5 )
[18] ( Mustopo,Habib,Ilmu
Budaya Dasar,Surabaya:Usaha Nasional,1983,H.125 )
[19] ( Tri Prasetya,Joko,dkk, ilmu budaya dasar,Jakarta: Rhineka Cipta,2011,H.6 )
[20] ( Tri Prasetya,Joko,dkk, ilmu budaya dasar,Jakarta: Rhineka Cipta,2011,H.6-7 )