PEMBAHASAN
A. Pengertian Makkiyah dan Madaniyyah
Kata al – makki berasal dari kata “ Mekkah “ dan
al – madani berasal dari kata “ Madinah “. Kedua kata tersebut telah dimasuki “
ya “ nisbah sehingga menjadi al – makkiy atau al – makkiyah dan al – madaniy
atau al – madaniyah. Secara harfiah maka surat makki atau al – makkiyah berarti
“ yang bersifat mekkah “ atau yang berasal dari Mekkah . Jadi pengertian surat
Makki adalah yang pertama, surah yang turun sebelum hijrah meskipun bukan di
Mekkah. Yang kedua surah yang turun di Mekkah dan sekitarnya. Dan yang ketiga
yakni surah yang di dalamnya terdapat seruan untuk penduduk mekkah.
Sedangkan al – madaniy
atau al – madaniyyah berarti yang bersifat Madinah atau yang berasal dari
Madinah.Maka ayat atau surah yang turun di Mekkah disebut dengan Al – Makkiyyah
dan yang diturunkan di Madinah disebut Al – Madaniyyah. Jadi pengertian surah
Madani adalah yang pertama, surah yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun
bukan di Madinah. Kedua surah yang turun di Madina dan sekitarnya. Dan yang
terakhir adalah surah yang di dalamnya terdapat seruan untuk orang Madinah.1[1]
Para sarjana muslim
mengemukakan ada 4 perspektif dalam mendefinisikan terminologi Makkiyyah dan
Madaniyyah. Keempat perspektif itu adalah : masa turun ( zaman an – nuzul ),
tempat turun ( makan an – nuzul ), objek pembicaraan ( mukhathab ) dan tema
pembicaraan ( maudu’ ).2
Dari perpektif masa
turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut :
Artinya :
“ Makkiyyah ialah ayat – ayat yang
turun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Mekkah,
sedangkan Madaniyyah adalah ayat – ayat yang turun sesudah Rasulullah hijrah ke
Madinah, kendatipun bukan turun di Madinah. Ayat – ayat yang turun setelah
peristiwa hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di Mekkah atau Arafah”.3
Dari
perpektif tempat turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai
berikut :
Artinya :
“ Makkiyah ialah ayat –
ayat yang turun di Mekkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyyah,
sedangkan Madaniyyah adalah ayat – ayat yang turun di Madina dan sekitarnya,
seperti Uhud, Quba’,dan Sul’a.”4
Dari perspektif objek pembicaraan,
mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut :
Artinya :
“ Makkiyyah dalah ayat –
ayat yang menjadi khitab bagi orang –
orang Mekkah. Sedangkan Madaniyyah adalah ayat – ayat yang menjadi khitab bagi
orang – orang Madinah.”5
B. Klasifikasi surat – surat Al – Quran
Terdapat berbagai pendapat dari para
ahli dalam menetapkan surat-surat makkiyah maupun surat-surat madaniyah.
Perselisihan pendapat ini pada dasarnya disebabkan oleh berbagai asumsi dari
para ulama’ itu sendiri. Sebagian ulama berpendapat bahwa jumlah surat Makkiyah
ada 85 surat, sedangkan yang madaniyah ada 28 (Muhammad ibn Nu’man ibn Basyir
dalam Fihrist).6
Ada pula yang berpendapat bahwa
jumlah surat Makkiyah ada 86 surat, sedangkan surat Madaniyah ada 28 surat (Al-Quran
edisi standar Mesir/ Kronologi Mesir.7
Sedangkan Ibnu al-Hashshar
berpendapat bahwa surat Makkiyah ada 82 surat, surat Madaniyah ada 20 Surat,
sedangkan 12 surat lainnya diperselisihkan. Berikut akan kami paparkan sebagian
perinciannya:
Surat Madaniyah
1. Al-Baqarah
11.
Al-Hujurat
2. Ali
Imran
12. Al-Hadid
3. An-Nisa’
13. Al-Mujadalah
4. Al-Ma’idah
14. Al-Hasyar
5. Al-Anfal
15. Al-Mumtahanah
6. At-Taubat
16. Al-Jum’ah
7. An-Nur
17. Al-Munafiqin
8. Al-Ahzab
18. At-Thalaq
9. Muhammad
19. At-Tahrim
10. Al-Fath
20. An-Nashr
Surat yang
Diperselisihkan
1. Al-Fatihah
7. Al-Qadar
2. Ar-Rad
8. Al-Bayyinah
3. Ar-Rahman
9. Az-Zilzalah
4. Ash-Shaf
10.Al-Ikhlash
5. At-Taghabun
11.Al-Falaq
Perbedaan pendapat para ulama’ tersebut dikarenakan
macam-macam status surat Makkiyah dan Madaniyah itu sendiri. Maka, surat
Alquran itu terbagi menjadi empat macam, antara lain:
1. Surat-Surat Makkiyah Murni
Ialah Surat-Surat Makkiyah yang seluruh ayatnya juga
berstatus Makkiyah. Jumlah surat-surat ini adalah 58 surat, yang berisi
2.074 ayat.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah surat Al-Fatihah,
Yunus, Ar-Ra’du, Al-Anbiya, Al-Mu’minun, An-Naml, Shaad, Fathir, dan
surat-surat pendek pada juz 30 (kecuali surat An-Nashr).
2. Surat-Surat Madaniyah Murni
Ialah
Surat-Surat Madaniyah yang seluruh ayatnya juga berstatus Madaniyah.
Jumlah surat-surat ini adalah 18 surat,
yang berisi 737 ayat.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah surat Ali Imran,
An-Nisa, An-Nur, Al-Ahzab, Al-Hujurat, Al-Mumtahanah, Az-Zalzalah, dan
sebagainya.
3.
Surat-Surat Makkiyah yang Berisi
Ayat Madaniyah
Ialah Surat-Surat Madaniyah yang
sebetulnya kebanyakan ayatnya adalah Makkiyah, sehingga berstatus Makkiyah,
tetapi didalamnya ada sedikit ayatnya yang berstatus Madaniyah. Jumlah
surat-surat ini adalah 32 surat, yang berisi 2699 ayat.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah surat Al-An’am,
Al-A’raf, Hud, Yusuf, Ibrahim, Al-Furqan, Az-Zumar, Asy-Syura, Al-Waqi’ah, dan
sebagainya.
4. Surat-Surat Madaniyah yang Berisi
Ayat Makkiyah
Ialah Surat-Surat yang kebanyakan
ayatnya berstatus Madaniyah. Jumlah surat-surat ini adalah 6 surat, yang
berisi 726 ayat.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah surat Al-Baqarah,
Al-MAidah, Al-Anfal, At-Taubah, Al-Hajju, dan surat Muhammad atau surat
Al-Qital.9
C. Ciri – ciri khas ayat Makkiyyah dan Madaniiyah
1. Makkiyyah
a. Di dalamnya
terdapat ayat sajdah;
b. Ayat – ayatnya
dimulai dengan kata “Kalla”;
c. Dimulai dengan
ungkapan “ya ayyuha an – nas” dan tidak ada ayat yang dimulai dengan ungkapan “
ya ayyha Al – Ladzina “,kecuali dalm surat Al-Hajj [22], karena di penghujung
surat itu terdapat sebuah ayat yang dimulai dengan ungkapan “ ya ayyuha Al –
ladzina “;
d. Ayat – ayatnya
mengandung tema kisah para nabi dan umat – umat terdahulu;
e. Ayat – ayatnya
berbicara tentang kisah nabi Adam dan Iblis, kecuali surat Al- Baqaah [2];
f.
Ayat – ayatny dimulai dengan huruf – huruf terpotong (
huruf at-tahajj ) seperti alif lam mim dan sebagainya, kecuali surat Al –
Baqarah [2] dan Ali Imran [3].10
2. Madaniyyah
a. Mengandung
ketentuan – ketentuan faraid dan had;
b. Mengandung
sindiran – sindiran terhadap kaum munafik, kecuali surat Al-Ankabut [29];
c. Mengandung
uraian tentang perdebatan dengan Ahli Kitabin.11
D. Kegunaan Mempelajari/Mengetahui Makkiyyah dan
Madaniyyah
1. Mengetahui ayat-ayat yang dinasikh
(dihapus atau diganti) maupun yang menasakhkannya.
Dengan mengetahui ayat nasikh
mansukh, kita dapat memastikan kejelasan dari suatu hukum yang diterangkan oleh
2 ayat yang saling bertentangan. Oleh sebab itu, haruslah diperjelas mana ayat
yang turun terlebih dahulu (Makkiyah), sehingga mungkin ayat itulah yang
dihapus atau diganti hukumnya dengan ayat yang turun kemudian (Madaniyah).
2. Membantu dalam menafsirkan al-Quran.
Dengan
mengetahui tempat turunnya suatu ayat, kita dapat memahami ayat tersebut sesuai
dengan konteks dan arti yang ada, serta isyarat-isyarat yang dikemukakan.
3. Mengetahui sejarah pembentukan
hukum/ sejarah pensyariatan hukum-hukum Islam (tarikh at-tasyri’) serta
hikmahnya (hikmatul tasyri’).
Dengan ilmu Makky dan Madani, tarikh tasyri’ yang sangat
bijaksana dalam penetapan peraturan-peraturan Islam secara bertahap, dapat
diketahui dan dipahami, mengapa suatu hukum dapat disyariatkan secara demikian.
Kita juga bisa memahami hikmah dari syariat tersebut.
4. Pemanfaatan terhadap gaya bahasa
al-quran dalam mengajak kepada jalan Allah SWT.
Surat Makkiyah ditujukan kepada orang-orang kafir Quraisy,
yang banyak pakar ahli bahasa Arabnya memakai gaya bahasa singkat-padat,
sedangkan surat Madaniyah ditujukan kepada penduduk Madinah yang heterogen,
banyak orang asing yang belum mengenal bahasa Arab, menggunakan ungkapan
panjang-lebar agar mudah dipahami.
5. Mengetengahkan sejarah Nabi dengan
cara mengikuti jejak beliau di Mekkah maupun di Madinah, serta sikap-sikap
beliau dalam berdakwah yang dapat dijadikan acuan bagi para da’i.
6. Menjelaskan tugas dan perhatian kaum
muslimin terhadap al-quran, sehingga mereka selalu merasa haus akan ilmu Islami.12
KESIMPULAN
Al – Makki dan Al - Madani berarti suatu ilmu yang membahas
tentang tempat dan periode turunnya surah atau ayat Al – Quran, baik di Mekkah
atau Madinah. Ayat yang turun pada periode Mekkah atau sebelum Rasulullah
hijrah ke Madinah meskipun bukan turun di Mekkah disebut dengan ayat/surah
Makkiyah. Sedangkan ayat/surah yang turun pada periode Madinah atau setelah
Rasulullah hijrah ke Madinah meskipun bukan turun di Madinah disebut dengan
ayat/surah Madaniyyah. Banyak para ulama saling berbeda pendapat mengenai
klasifikasi surat – surat Al – Quran, disebabkan karena surat – surat Al –
Quran itu terbagi menjadi 4 macam, yakni :
1. Surat – surat Makkiyah murni
2. Surat – Surat Madaniyyah murni
3. Surat – surat Makkiyah yang berisi
ayat Madaniyyah
4. Surat – surat Madaniyah yang berisi
ayat makkiyah.
Surah/ayat Makkiyah dan Madaniyyah
memiliki ciri – ciri khas masing – masing,sehingga dapat membantu kita untuk
membedakannya. Ada banyak manfaat atau faedah apabila mempelajari Makkiyah dan Madaniyyah diantaranya adalah :
mengetahui ayat – ayat yang dinasikh maupun yang menasakhkannya, membantu dalam
menafsirkan Al – Quran, mengetahui sejarah pembentukan hukum/sejarah
pensyariatan hukum – hukum Islam serta hikmahnya,pemanfaatan terhadap gaya
bahasa Al – Quran dalam mengajak kepada jalan Allah SWT,mengetengahkan sejarah
nabi dengan cara mengikuti jejak beliau di Mekkah maupun Madinah,menjelaskan
tugas dan perhatian kaum muslimin terhadap Al – Quran.
[i]3. Badr Al – Din Muhammad bin ‘Abdillah Az –
zarkarsyi, Al – Burhan fi Ulum Al-Quran,jilid I,hlm.187;Jalaludin
As-Suyuthi,Al-Itqon fi ulum Al –Quran,Dar
Al-Fikr,Beirut,t.t.,Jilid I,hlm.13-14;Al-Qathan,op.cit.,hlm.61
4. Al-Qaththan,op.cit.,hlm.62
5. Al – Qaththan,loc.cit
6. Taufik Adnan
Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran ( Jakarta: Pustaka Alvabet,
2005), 106-108.
7. Taufik Adnan
Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Quran ( Jakarta: Pustaka Alvabet,
2005), 111-114.
8. Fahd
Bin Abdurrahman, Ulumul Quran: Studi Kompleksitas Al-Qur’an ( Yogyakarta:
Titian Ilahi, 1999),
166-167.
9. Abdul
Djalal, Ulumul Qur’an (Surabaya: Dunia Imu, 2008), 99-100.
10. Al-Qaththan,op.cit.,hlm.63-64; Al-Zarkasyi,op.cit.,hlm.188.
11. Al-Qaththan,op.cit.,hlm.63-64; Al-Zarkasyi,op.cit.,hlm.188.
12. Abdul Djalal, Ulumul
Qur’an (Surabaya: Dunia Imu, 2008), 176-177.
DAFTAR PUSTAKA
Marzuki,Kamaludin.1992.
Ulum Al-Quran.Bandung: Remaja
Rosdakarya Offset
Anwar, Rosihon. . Ulum Al – Quran Untuk UIN,STAIN,dan PTAIS. : Pustaka Setia
Quthan,Mana’ul.1993. Pembahasan Ilmu Al – Quran.Jakarta:Rineka
Cipta
Adnal Amal,Taufik.2005.Rekontruksi Sejarah Al – Quran.Jakarta:
Pustaka Alvabet
Djalal,Abdul.2008. Ulumul Quran.Surabaya: Dunia Ilmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar